adsense

Seandainya Vincenzo…

Poster drama “Vincenzo” dari TvN

Drama “Vincenzo”, yang terbilang hits sejak penayangan episode pertama hingga akhir, membuat saya ingin berkomentar banyak hal. Agak telat sih sebenarnya karena saya baru selesai mengkhatamkan drama ini. Lumayan, sampai episode 20, dipotong pula oleh mood saya yang angin-anginan. 😂

Daya tarik pertama dari drama ini, tentu saja tokoh utamanya, yakni Vincenzo alias Song Joong-ki. Daya tarik kedua, genre yang dipakai oleh drama ini. Saya pikir genrenya thriller, drama politik, atau semacamnya. Agak-agak mirip sih, tapi sungguh jauh lebih ringan, terutama drama ini banyak dibumbui dengan komedi. Cocok sekali ditonton oleh saya yang penakut ini haha. Daya tarik selanjutnya adalah ide cerita si penulis. 

Meski masih terbilang aneh saat tokoh Vincenzo berbicara dalam bahasa Italia, Song Joong-ki bisa tetap oke memerankan tokoh tersebut. Pengenalan cerita juga dibuka oleh aksi Vincenzo, seorang mafia yang bermain peran ‘diam-diam menakutkan’ dengan gasolinnya. Di sini, Vincenzo sudah menunjukkan ‘kekuatan’-nya. 

Ide yang cukup lucu dan akhirnya menimbulkan plot twist, saat Vincenzo harus pergi ke Korea, mengambil emas yang disimpan dalam ruang bawah tanah Plaza Geumga, tetapi justru memunculkan masalah baru yang berantai. Seorang mafia yang sejatinya seorang penjahat justru harus melawan penjahat juga, yakni Babel dan sekutunya. 

Konfliknya begitu banyak dan sempat berbelit-belit. Saya pikir, 16 episode sudah terbilang cukup untuk masuk ke tahap peleraian. Namun, karena di balik masalah ada masalah lagi, ditambah plot twist yang menyebar di mana-mana, saya rasa, jumlah 20 episode memang pilihan yang tepat. 

Kehadiran Jeon Yeo Bin yang berlaku peran sebagai Hong Cha Young sangaat mempermanis drama ini. Dia digambarkan sebagai sosok yang penuh semangat dan pemberani. Dia juga yang menambah suasana romantis dalam drama ini, dan bagi saya, porsinya begitu pas. Tidak giung dan tidak berlebihan. Cocok disandingkan beradu akting dengan Song Joong-ki. 

Saya sempet membaca komentar beberapa netizen yang mengatakan bahwa sebenarnya yang jauh lebih psikopat adalah Vincenzo, bukan Jang Joon Woo, direktur perusahaan Babel, yang diperankan oleh TaecYeon (hal ini disebutkan karena Vincenzo tidak segan-segan mengeksekusi lawan secara pelan-pelan dan tidak langsung menghabisi mereka; menembak telinga, memotong jari-jari, dan lain-lain). Bagi saya, tentu saja tidak hehehe. Vincenzo melawan Babel dan sekutunya, meski di awal seolah terpaksa demi mempertahankan Plaza Geumga, dia melawan karena muncul naluri ingin membela yang lemah dan benar. Semangat ini yang akhirnya dirasakan oleh para penghuni Plaza Geumga hingga mereka seratus persen mendukung dan membantu Vincenzo dalam aksinya. Selain itu, latar Vincenzo yang berasal dari keluarga Korea, tetapi terpaksa dikirim ke Italia dan menjadi keluarga mafia adalah salah satu faktor juga. Dia melakukan kejahatan-kejahatan mafia dengan rasa bersalah, terbukti dari mimpi-mimpi yang membuatnya merasa gelisah. 

Pembalasan Vincenzo kepada Jang Joon Woo dan Ibu Choi (mantan jaksa pendukung dan menjadi pengacara pribadi Joon Woo) betul-betul membuat penonton puas. Tapi, entah kenapa, pembalasan kepada keduanya justru mengingatkan saya pada pembalasan di neraka sana. Dibalas dengan disiksa perlahan, lalu yang disiksa berteriak memohon ampun, tetapi tetap tak bisa ditangguhkan, adalah sesuatu yang membuat saya ngeri dan ingin menangis. Ya Allah, lindungilah kami dari siksa api neraka.. 😭

Pergerakan alur dari tahap klimaks ke peleraian terbilang sangat cepat. Bisa dikatakan, klimaks alias puncak konflik muncul di akhir episode 19, sedangkan peleraian berada di episode 20. 

Dan yang terakhir, yang membuat saya berandai-andai dari drama ini. Seandainya Jang Han Seo tidak mati terbunuh oleh kakaknya sendiri. Dia diizinkan untuk hidup dan hadir menjadi pembantu Vincenzo di seri selanjutnya, pasti lebih seru wkwk. Tentu saja, seandainya drama ini bisa berlanjut ke serial kedua. Mungkin, bisa saja di seri kedua, Vincenzo bertobat dari dirinya sebagai mafia dan melawan orang-orang yang masuk dalam politik (kita tahu bahwa Pak Kim, tangan kanan calon presiden, berlaku sewenang-wenang demi melancarkan kemenangan si calon presiden). Dan… seandainya Vincenzo bertobat dan ada di Indonesia beserta Hong Cha Young dan penghuni Plaza Geumga hahaha. Mungkin masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme bisa tuntas dihapuskan satu per satu #hopeless. Karena kita tau.. aksi KKN ini tidak hanya tumbuh subur di kalangan pemerintahan, melainkan juga sudah merebak di kalangan perusahaan-perusahaan swasta. Perusahaan Babel salah satu contoh fiksinya. 

Sangat direkomendasikan menonton drama ini. Nilai dari saya, 9/10 👍🏻⭐️✨

Related Posts

Post a Comment

0 Comments