adsense

Menerima Diri Seutuhnya, Kayak Gimana?



Berawal dari sebuah testimoni di Hayyu Academy tentang acara SHS (Self Healing Sharing), dari judul yang menarik, dan dari diri yang sedang butuh asupan, akhirnya saya memutuskan ikut acara SHS ini tanggal 31 Juli 2021. Saat itu, narasumbernya adalah Bunda Aniqq Alfaqiroh. Jujur, sebenarnya saya terbilang cuek dan ga peduli untuk ikut acara-acara semacam ini. Namun, karena beberapa hal yang saya lewati baru-baru ini, saya diberi 'petunjuk' untuk ikut SHS.

Judul SHS kemarin adalah "Menerima Diri Seutuhnya". Dulu saya menganggap istilah-istilah semacam ini adalah menye-menye dan berlebihan. Tapi kemudian saya jadi penasaran: Gimana cara menerima diri seutuhnya? Apa konsepnya sama dengan yang saya pikirkan? 

Hal menarik yang langsung menusuk adalah pertanyaan pertama yang disampaikan oleh narasumber: Kenapa kita gampang sumpek dan stres? Kenapa kita mudah memikirkan hal buruk? Kenapa lebih mudah overthinking dan insecure? Juga kenapa dua istilah ini semakin booming ya? Padahal, saat kita mudah stres, tubuh kita juga ikutan stres. Saat kita marah selama lima menit, sel-sel dalam tubuh mengalami depresi selama enam jam. Padahal, orang yang sakit fisik, 85% sumbernya berasal dari psikis yang bermasalah. Duhduhduh. Sungguh menyedihkan dan mengkhawatirkan.

Kali ini, saya sampaikan dari sisi ilmu psikologi ya. Mudah-mudahan nanti bisa saya sampaikan juga tentang mental health dari sisi Islamic Worldview. Sebenarnya, narasumber juga menyampaikan materi dengan melibatkan konsep ketuhanan, kok. Ya karena memang segala sesuatunya ga pernah dan ga mungkin lepas dari hal itu. 

Fenomena Manusia Modern

Narasumber mengatakan, kita saat ini adalah 'manusia modern' yang mengalami beberapa fenomena umum. Fenomena pertama adalah bersumbu pendek alias mudah emosi atau mudah reaktif terhadap sesuatu (ingat istilah sumbu pendek ini jadi ingat netizen yang sering berdebat antara 'si cebong' dan 'si kampret' ya wkwk). Fenomena kedua adalah mudah stres (kurang rileks, mudah panik). Fenomena ketiga adalah bersifat anarkis, dengan contoh sederhana adalah mudah nyinyir dan julid hehehe. Fenomena keempat adalah overwhelmed alias merasa kewalahan terhadap satu atau beberapa aspek dalam hidup. Fenomena yang kelima adalah overprotective, yakni terlalu takut dengan sesuatu hal. Dari kelima contoh fenomena ini, apakah kalian merasakan dan mengalaminya?

Rasanya, manusia saat ini berlomba-lomba untuk mengikuti tren, sekaligus dipaksa untuk mengikuti zaman. Dalam kurun waktu sepuluh tahun aja, udah banyaaak banget perubahan yang kita alami dan rasakan. Padahal, sepuluh tahun itu terbilang 'ga kerasa' ya buat kita. Eh eh, jangankan sepuluh tahun, deh. Bahkan, anggap aja dua tahun selama pandemi covid-19 melanda, buanyak buanget perubahan yang terpaksa perlu kita ikuti. Mulai dari rutinitas sehari-hari hingga hingga pola pikir kita. Tak sedikit juga yang jadi stres saat pandemi ini.

Belum lagi kalau... kondisi yang berada di luar kuasa kita ini merembet pada hal-hal lain. Misalnya, pada pencapaian kita yang tersendat, akhirnya kita memforsir diri untuk banting tulang tak kenal lelah kerja keras bagai kuda demi sesuatu yang kita targetkan bisa tercapai. Sungguh tak salah. Tapi kalau sampai berlebihan dan menjadi zalim pada diri sendiri, ya bagaimana pula? Atau.. Ada pula yang meresponsnya dengan justru tidak melakukan apa pun dan menyalahkan diri. Lama-lama, dia bisa terus-menerus menyalahkan keadaan hingga menyalahkan orang lain. Dirinya merasa menjadi korban dan merasa tidak dimengerti. 

Di tengah-tengah keruwetan itu, biasanya kita beristirahat justru dengan scroll media sosial, misalnya. Sayangnya, kita sampai sering lupa waktu sehingga mata dan tubuh yang seharusnya direhatkan, justru makin bekerja terus-menerus. Syukur-syukur sih kalau saat kita scroll media sosial, emosi kita tetap sehat dan baik-baik aja. Bagaimana pula kalau setelah buka instagram, justru tiba-tiba 'tantrum' dan nambah penyakit hati? Atau saat buka twitter, emosi kita naik-turun dengan cepat saat membaca berita sedih, lalu seketika tertawa saat menonton video lucu, kemudian tiba-tiba marah karena suatu berita. Apakah ini bisa disebut istirahat yang efektif? Atau justru juga menambah beban otak dan hati?

Perenungan-perenungan ini yang juga cukup menampar diri buat saya. Contoh-contoh kecil tersebut bisa menjadi faktor kita akhirnya menyalahi diri sendiri, zalim pada diri sendiri, stres, mudah marah, gelisah, galau, merana. Ini juga yang bisa membuat kita membandingkan diri dengan orang lain. Tiada henti. 

Memulai dari Diri Sendiri

Gimana sih rasanya disayang seseorang tuh? Bahagia luar biasa, ya? Kalau disayang sama diri sendiri, gimana ya rasanya? 
Bisa kita mulai dari.. tau dan terima kelemahan dan kelebihan kita, tapi kita fokus pada kelebihan dan potensi diri kita. Jika sudah begitu, orang lain pun akan lebih mudah memaklumi kelemahan kita. Jika sudah berusaha, terimalah apa pun hasilnya dengan baik, lalu ramah dan jujurlah pada diri sendiri. Berusaha fokus ke dalam diri kita dengan banyak merenung, bersyukur, beristigfar. Kita menyadari bahwa Allah begitu baik pada kita dan Dia tak pernah menciptakan seorang hamba dengan produk yang gagal. Yes! Kamulah pemeran utama dalam hidupmu. Cintailah diri sendiri sebagai bentuk penjagaan amanah dari Allah, tentu dengan syariat-syariat yang telah ditentukan. 

Qadarullah, seminggu ini pun saya ikut sebuah grup yang sebagian kecilnya (karena sebagian besarnya membahas penyakit tertentu) ada membahas masalah ini. Tidak sama persis, tapi tidak jauh beda juga.  Hasilnya, saya mulai memaksakan merutinkan diri untuk melakukan afirmasi diri setiap pagi, dengan menulis di diary, atau berbicara di depan cermin, atau mengirim voice note di grup whatsapp sendiri.

"Hai, diriku. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Kamu diberkahi dengan orang-orang yang selalu mendukung kamu, suami yang sabar, orang tua yang hebat, lingkungan yang baik. Kamu diberkahi dengan sel-sel tubuh yang bekerja dengan baik dan mudah beradaptasi. Kamu diberkahi dengan nikmat sehat yang tak terhingga nilainya. Kamu diberkahi dengan ... Terima kasih untuk Allah yang telah mengucurkan nikmat berlimpah tiada henti. Terima kasih ya kamu ..." dan seterusnya.

Juga, kalau gak males menulis jurnal syukur saat menjelang tidur. Isinya lebih banyak bersyukur, dari hal keciiil apa pun. 
"Alhamdulillah hari ini sehat, tadi sore bisa jajan susu cimory, beli jajanan kesukaan, makan masakan suami yang begitu nikmat. Hari ini bisa melakukan blablabla dengan baik dan bisa poduktif. Bisa senam pagi meski cuma sebentar," dan seterusnya.

Selain itu, ada pula butterfly hug yang jadi sesi favorit kebanyakan peserta SHS yang bisa banget dipraktikkan. Peluk diri sendiri: tangan kiri memegang pundak kanan, tangan kanan memegang pundak kiri (sehingga membentuk posisi tangan yang menyilang, mendekap diri sendiri). Baru deh kita berbicara sambil mengelus-elus diri sendiri.. Meminta maaf karena sudah zalim pada diri sendiri (kurang minum, makan sembarangan, dan lain-lain), berterima kasih pada diri sendiri, dan menguatkan diri sendiri.

Intinya, memang banyak belajar berbicara pada diri sendiri. Dilatih pula menulis dan mengucapkan hal-hal yang baik. Dengan begitu, energi yang dihasilkan pun akan (mem)baik. Semoga dengan begitu juga, bisa semakin lentur menghadapi masalah perduniawian, makin sadar kalau saya seorang hamba penuh keluhan, serta bisa makin memperbanyak syukur dan ingat pada yang Menciptakan.

Salam cinta dari saya untuk pembaca semua!

Related Posts

Post a Comment

2 Comments