adsense

Alih Wahana Cerpen Filosofi Kopi Menjadi Film

sumber gambar: deelestari.com

"Filosofi Kopi" adalah sebuah ungkapan yang tidak asing didengar oleh sebagian masyarakat Indonesia. Terlebih saat film "Filosofi Kopi" yang disutradai oleh Angga Dwimas Sasongko ini hadir sebagai bentuk ekranisasi—atau lebih populer disebut alih wahana—dari buku kumpulan cerpen yang berjudul sama. Ekranisasi berasal dari bahasa Perancis, ecran, yang berarti layar. Menurut Damono dalam Galeh (2015), ekranisasi adalah pengalihan karya seni dari satu wahana ke wahana lain. Ekranisasi ini adalah proses pelayar-putihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Pemindahan dari novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya perubahan (Eneste dalam Suseno, 2011).


Sebelum cerpen Filosofi Kopi diekranisasi, ada banyak karya (baik novel, cerpen, naskah drama, dll.) yang dialihwahanakan ke dalam bentuk film. Hal ini menjadi sebuah harapan baru agar karya tersebut dapat terjangkau lebih luas oleh masyarakat—mengingat film adalah media komunikasi visual sebagai alat penyampai pesan. Jika melihat secara umum, film yang diekranisasi dari cerpen atau novel selalu memiliki alur yang berbeda dari medium sebelumnya. Hal tersebut memiliki faktor-faktor lain karena tentu, karya dalam bentuk tulisan akan berbeda dengan karya bentuk visual.


Perbedaan Alur Cerita

Ada beberapa hal yang berbeda antara kumcer Filosofi Kopi dengan filmnya—meski secara umum isi cerita sama. Jika dalam cerpen, alur yang digunakan menggunakan alur maju, di film justru seperti menggunakan alur maju-mundur. Di dalam film, Ben mengingat kilas balik tentang masa lalunya yang buruk tentang kopi. Dalam film ini juga tokoh Ayah Ben masuk dalam cerita, sedangkan dalam cerpen tidak ada. Alur bukan hanya melihat dari jalan cerita, tetapi juga melihat sebab-akibat jalannya sebuah cerita.


Di antara sekian perubahan antara cerpen dengan film “Filosofi Kopi”, sebab-akibat yang ada dalam kedua medium ini tidak terlalu kentara terlihat. Di dalam cerpen, Ben terobsesi membuat kopi karena kopi sudah menjadi bagian hidup dirinya. Saat ada seorang bos yang menantang dengan memberikan uang sebesar lima puluh juta rupiah jika kopi racikan Ben sempurna, Ben kembali terobsesi untuk bisa mendapatkan uang tersebut. Sebab, kedatangan seorang bos ke kafe Ben dihubungkan oleh jalan cerita hingga pada akhirnya Ben mendapatkan uang tersebut karena berhasil membuat kopi yang rasanya sempurna.


“... Pria itu mengeluarkan selembar cek. ‘Selamat. Kopi ini Perfect, sempurna.’ Sebagai ganti, Ben memberikan kartu Filosofi Kopo. Kartu ini bertuliskan:
KOPI YANG ANDA MINUM HARI INI:
BEN’s PERFECTO” (Lestari, 2006: 13)


Berbeda dengan film, Joddy (teman Ben yang memegang administrasi keuangan kafe) begitu sibuk memikirkan cara membayar utang ayahnya—yang kemudian dialihkan kepada Joddy. Saat seorang bos pencinta kopi datang dengan menawarkan tantangan sebesar seratus juta, Joddy bersikukuh ingin menerima tawaran tersebut sekalipun Ben awalnya tidak ingin menerima. Berkat bujuk rayu Joddy, Ben akhirnya menerima tawaran seorang bos dan melipatgandakan tawaran tersebut menjadi satu miliar. Dari sana, Ben begitu tergila-gila untuk meracik kopi yang sempurna.


sumber poster film: cnnindonesia.com

Melihat dari alur berdasarkan sebab-akibat yang dialami, penyebab permasalahan dalam film dibuat lebih kompleks karena sejak awal cerita, film ini sudah mengenalkan Joddy dan Ben yang terlilit utang dan bersusah payah membangun kafe. Sementara itu, dalam cerpen, cerita menyuguhkan kecintaan Ben yang begitu dalam dengan kopi hingga akhirnya mendapatkan sebuah permasalahan baru, yakni tantangan lima puluh juta dari seorang bos. Permasalahan dalam film lebih menekankan ‘bagaimana caranya agar terbebas dari utang’, sedangkan permasalahan dalam cerpen menekankan ‘mana mungkin ada kopi yang rasanya lebih enak melebihi kopi perfecto’. Hal ini tentu akan memengaruhi jalan cerita Filosofi Kopi tersebut.


Adanya Tokoh dan Karakter yang Berbeda

Dalam jalan cerita dua medium tersebut, terdapat tokoh yang berbeda yang terdapat dalam film. Dalam cerpen, orang yang berkunjung ke kafe dan berkata bahwa ada kopi yang jauh lebih enak adalah seorang bapak paruh baya. Berbeda halnya dengan cerpen, dalam film dikenalkan bahwa orang yang berkunjung ke kafe dan berkata bahwa ada kopi yang jauh lebih enak adalah seorang wanita cantik berprofesi sebagai jurnalis. Saya pikir, perbedaan  tokoh ini mempertimbangkan selera pasar—di mana wanita cantik selalu menjadi daya pikat (modal) utama sebuah film.


Penyebab permasalahan yang dialami dari masing-masing medium juga sangat berkaitan erat dengan karakter tokoh utama, Ben (yang terlihat begitu menonjol perbedaannya). Di dalam cerpen, Ben dikisahkan sebagai seorang pencinta kopi yang telah melanglangbuana ke seluruh dunia untuk mencicipi segala macam kopi. Akibat pengalamannya tersebut, ia berhasil meracik kopi-kopi terbaik hingga kafenya terkenal se-kota Jakarta. Saat Ben mengetahui ada kopi yang lebih enak dari kopi sempurna buatannya, ia sempat marah dan merasa direndahkan. Namun, Ben justru nekad untuk mengunjungi pemilik kopi di salah satu pedesaan di Jawa Tengah. Setelah ia berkunjung dan merasakan kopi yang—katanya—lebih enak daripada kopi Perfecto, Ben justru merasa kalah, sombong dalam hatinya hilang. Bahkan uang hasil tantangan yang sudah didapatnya pun diberikan kepada pemilik kopi tersebut (Pak Seno).


“Aku kalah, desisnya lesu.
“Kalah dari apa? Tidak ada kompetisi di sini.”
“Berikan ini pada Pak Seno,” Ben menyodorkan selembar kertas. (Lestari, 2006: 22)


Berbeda halnya jika dibandingkan dengan karakter Ben dalam film, Ben justru digambarkan sebagai seorang yang sombong dan angkuh. Saat Ben dan Joddy bertemu dengan Pak Seno, Ben dan Joddy masih dalam kondisi ‘menerima tantangan satu miliar’. Ambisi Joddy begitu tinggi untuk bisa memenangkan tantangan dan mendapatkan uang, sedangkan ambisi Ben begitu tinggi, tak ingin kopi racikannya dikalahkan oleh racikan seorang bapak paruh baya asal sebuah desa. Akibat dari permasalahan ini, Ben berhasil memenangkan tantangan tersebut dengan membeli kopi dari kebun milik Pak Seno.


Adanya Penyesuaian

Perbedaan sebab-akibat yang terdapat dalam cerpen dan film tentu tidak semata-mata atas keinginan pribadi (terutama bagi seorang pembuat film). Cerpen Filosofi Kopi yang ditulis oleh Dee Lestari adalah gagasan dan imajinasi murni yang langsung diciptakan oleh Dee. Sementara itu, film—yang notabene sebagai medium berbentuk visual dan audio—mempertimbangkan banyak faktor. Faktor tersebut dialihkan ke dalam sebuah konten yang menarik. Produser film ini, Handoko Hendrayono, menjadikan film tidak hanya sebagai media hiburan dan pendidikan, tetapi juga dikembangkan sebagai bisnis ‘kedai kopi’. “Pihak Handoko mendukung penggemar komunitas penggemar dan pelaku industri kopi. Dengan demikian, keberlangsungan bisnis tak hanya selesai pascafilm selesai.” (Rasyida, 2018). Terlihat bahwa film juga menjadikan seseorang tertarik, cinta, dan memiliki motivasi terkait dengan kopi.

 

Referensi:

Galeh. 2015. “Ekranisasi: Alihwahana yang Membahana”. https://www.kompasiana.com/galehpramudita/552a1fc4f17e61fd5ed623e3/ekranisasi-alihwahana-yang-membahana

Rasyida. 2018. “Kriteria Novel untuk Film Layar Lebar”. https://beritagar.id/artikel/seni-hiburan/kriteria-novel-untuk-film-layar-lebar

Suseno. 2011. “Filmisasi Karya Sastra Indonesia: Kajian Ekransasi pada Cerpen dan Film “Tentang Dia”. http://indonesia.unnes.ac.id/artikel/filmisasi-karya-sastra-indonesia-kajian-ekranisasi-pada-cerpen-dan-film-%E2%80%9Ctentang-dia%E2%80%9D.html

Lestari, Dee. 2006. Filosofi Kopi. Jakarta: Gagas Media.


Catatan: 
- Bagi siapa pun yang mengkopi dan menyalin tulisan ini dalam bentuk apa pun, sudah masuk dalam pelanggaran hak cipta, ya. Apalagi kalau dipakai untuk tugas. Oh no, oh no, oh no no no no no~
- Tulisan hasil tugas kuliah dulu dengan sedikit revisi, dalam rangka berbagi dan menyimpan arsip di blog. Hehe. Semoga bermanfaat.

Related Posts

Post a Comment

0 Comments