Wujud Monster yang Sarat Makna dalam Film Sal Priadi SERTA MULIA

 

poster film dari instagram Sal Priadi

Film "Serta Mulia" karya Aco Tenriyagelli adalah official short film pelengkap lagu Sal Priadi dengan judul yang sama. Film ini berdurasi enam belas menit, tapi bagi saya seperti lima menit. Sejak menit pertama hingga terakhir, saya selalu dibuat penasaran: habis ini, apa lagi ya? Ini bakal gimana ya jalan ceritanya? Ini mau ke mana sih maksudnya? Dialog antartokoh yang dihadirkan pada awal film pun terbilang lambat disertai dengan jeda, seakan makin memberi ruang untuk penonton bertanya-tanya dan menduga-duga.

Awalnya, saya pikir, film ini adalah film 'horor' karena pemilihan tone warna yang cukup gelap, pengunjung kafe yang pasif alias jarang gerak, dan kehadiran 'monster'. Namun, kemudian, bagian yang cukup disoroti lebih banyak adalah bagian stand up comedy. Adi, tokoh utama dalam film tersebut, beberapa kali open mic dengan mengeluarkan jokes yang gak lucu, sebenarnya, tapi karena ketidaklucuannya itu (juga respons tokoh lain) justru membuat saya ingin tertawa. Hal menarik dari materi stand up comedy-nya Adi adalah dia mengambil materi-materi dark kepada pengunjung dengan contoh nyata (misalnya, dia mengambil bahan materi 'sosis' yang diolah secara tidak baik, padahal pengunjung sedang makan sosis). Meski sudah menyampaikan materi 'pengolahan sosis dan nugget yang tidak baik dan tidak bagus untuk tubuh', Adi justru mempersilakan pengunjung kembali memakan sosis dan nugget karena dia memaparkan solusi bahwa banyak pengobatan yang canggih dan bagus dalam mengatasinya. 

Dugaan pertama bahwa film ini adalah film horor ternyata tersingkirkan dari jalan cerita selanjutnya, yakni Adi yang mulai 'jatuh cinta' kepada Din, seorang monster (padahal awalnya Adi jijik banget). Di saat jokes-jokes Adi tak disambut baik oleh pengunjung, Din justru menyambutnya dengan hangat sehingga praduga Adi yang awalnya menilai buruk Din hanya dari tampilan luar, mulai berkurang. Seiring berjalannya waktu, Adi juga mulai menerima Din atas sikap dan karakter Din. 

Saya pikir, Din selaku monster akan berubah menjadi gadis cantik seperti di film-film Disney, tapi syukurlah dugaan saya tak terjadi. Sampai di bagian ini, saya pikir film ini hanya sekadar film romantis, seperti kisah sang pangeran yang jatuh cinta pada seorang putri buruk rupa. Namun, rupanya, Aco dan Sal tak ingin menjadikan film ini sekadar film 'cinta-cintaan menerima si dia apa adanya'. Mereka menambah sesuatu yang berhasil menampar penonton dari beberapa dialog di dalamnya.

Dialog pertama yang mulai jleb bagi saya adalah kalimat Sal saat Adi menganggap jijik dan memandang rendah Din, "Kamu merasa lebih keren? Kamu merasa lebih tinggi? Jangan lah ngeliat dari penampilan luar doang." 

Dialog selanjutnya yang bagi saya sebagai inti dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton adalah kalimat pamungkas ini.

"... sampai akhirnya gue ketemu Din, gue jadi belajar ngeliat sesuatu lebih dari permukaannya aja dan gue gak terlalu mikirin opini orang karena gue jadi sadar, mungkin emang sesuatu yang dibilang orang menakutkan atau berbahaya buat kita, emang sebenarnya kita butuhin untuk nemuin siapa diri kita dan perbaiki diri kita."

"Karena gue rasa, kita semua punya monsternya masing-masing. Dan hidup terlalu singkat buat kita terus lari dan menjauh dari monster itu. Hadapi aja karena mungkin emang monster itu yang kita butuhin."

Kalimat yang dijadikan closing ini begitu apik dan sarat makna.

Wujud monster yang dihadirkan dalam film ini juga betul-betul unpredictable, segar, dan unik. Dia menjelma tak hanya sebagai 'seorang kekasih yang mencintai kekasih buruk rupa apa adanya', melainkan juga menjelma sebuah ketakutan, bayang-bayang, kesedihan, yang hadir dalam hidup kita, dalam bentuk apa pun. Sesuatu hal yang bahkan telah kita anggap monster sehingga kita berusaha untuk terus menjauhinya. Padahal.. seperti dalam kalimat si tokoh, bisa aja sesuatu yang kita anggap monster adalah sesuatu yang sengaja dikirimkan Allah karena memang kita butuhkan. Hanya sayangnya, selama ini kita gak sadar.. Seperti halnya obat yang pahit perlu kita minum demi kesembuhan kita, sesuatu hal pahit yang hadir dan terjadi pada kita juga perlu kita hadapi demi kebaikan kita. 

Film ini mengingatkan saya pada masalah-masalah yang sedang terjadi dan kembali meyakini diri untuk terus fokus pada diri sendiri, berbaik sangka, mudah memaafkan, dan semakin yakin kepada Allah. Jika disandingkan dengan lagu Sal Priadi dengan judul yang sama, sungguh menjadi perpaduan yang begitu kawin dan apik. Saya yakin, masih banyak interpretasi yang bermacam-macam dari penonton film ini, juga kesan yang didapatkan setelah menonton film ini. Semoga setelah menonton film ini, semua bisa lebih mencintai diri sendiri dan menerima monster yang ada dalam hidup kita.

Untuk yang belum dan ingin menonton filmnya, bisa tonton di sini, ya. 


 


Related Posts

Post a Comment

0 Comments