Melatih Empati sebagai Pengguna Media Sosial

Image by MarieXMartin from Pixabay

Berkaitan dengan artikel sebelumnya tentang tantrum yang salah satunya disebabkan oleh media sosial, saya akhirnya banyak berpikir dan merenung hehehe. Hal ini berkaitan erat dengan empati seseorang, yang saya soroti dari sisi sederhana dan mungkin sepele. Mungkin pula tidak sepenuhnya disepakati oleh teman-teman.

Perenungan ini berawal saat awal pernikahan saya. Sebelum menikah, saya cukup aktif membuat story di whatsapp (karena dulu kontaknya adalah orang-orang pilihan) yang isinya berupa keseharian saya, beberapa info, dan hal-hal yang random. Bagi saya, selama saya tidak menyinggung perasaan orang lain, apa salahnya? Toh status juga status saya. Kebiasaan itu juga terbawa hingga di awal-awal pernikahan. Namanya orang bucin, pasti ada perasaan ingin membagikan momen keromantisan di depan publik hahaha. Tapi eh tapi, beberapa hari kami bersama, saat dalam perjalanan di Bandung, saya berniat mengambil gambar suami secara candid, lalu akan saya unggah ke status whatsapp dengan kata-kata pada umumnya orang bucin. Ternyata, suami melarang. Selain karena beliau pemalu alias bukan tipe orang narsis, saya juga diingatkan untuk tidak 'ngabibita' atau membuat orang lain tergoda alias kepengen alias jadi iri. Dari situ, saya mulai bertanya-tanya dan perlahan menuruti saran suami.


Image by Gerd Altmann from Pixabay 

Nasihat yang diucapkan suami kala itu, ternyata saya rasakan akhir-akhir ini. Di tengah penantian saya dalam menunggu hadirnya garis dua dan beberapa faktor lainnya, saya bisa menjadi begitu sensi dengan orang-orang yang sering unggah foto bayi mereka (yang bahkan setiap hari banget) atau orang-orang yang sering unggah perkembangan kehamilannya. Tapi saya juga sadar, mereka tak sepenuhnya salah karena mereka sedang merasakan kebahagiaan tak terkira yang ingin dibagikan juga kepada publik. Saya juga sadar bahwa hati saya yang mungkin sedang bermasalah, maka saya berusaha untuk menghindari hal-hal yang membuat hati saya makin kotor. Meski, di tengah-tengah kekesalan itu, saya selalu berusaha untuk mendoakan kebaikan mereka.

Saat saya mulai berusaha memperbaiki hati, saya tiba-tiba di-chat oleh seorang teman dekat, "Fi, aku bisa lulus kan?" Pertanyaan yang begitu menohok bagi saya karena tentu dia pun sedang merasa sedih dan sangat sedih saat melihat yang lain berpesta pora terus-menerus dengan kelulusannya. Atau mungkin, hal yang sama dirasakan oleh orang-orang yang sedang menanti kabar baik dengan diterimanya lamaran kerja. Atau mungkin, mereka yang sedang galau dengan masalahnya dan mulai mempertanyakan jodohnya. Atau terutama, mereka yang sedang berada di fase quarter life crisis dan sedang insecure dengan dirinya. 

Di saat mereka berkoar-koar postinglah sesuatu tanpa mikirin ini-itu, saya mungkin lebih memilih, postinglah sesuatu dengan bijak, meski harus melalui proses seribu satu kali mikir, atau bahkan hingga sempat posting-hapus. Mungkin terkesan ribet, tapi bisa jadi ini salah satu cara agar terhindar dari penyakit 'ain dan iri dengki orang lain. Mungkin terkesan sepele, tapi bisa jadi sebagai salah satu cara berempati kepada orang lain, yang mungkin akan makin bertambah sedih atau iri saat melihat postingan kita. Meski kita tak bisa mengatur perasaan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan dan menahan sesuatu hal dari diri kita secara bijak. Meski tentu, bagi saya, membagikan suatu kebahagiaan agar didoakan itu perlu, tapi semua yang berlebihan tentu akan menjadi tidak baik. Saya garis bawahi ya, secara berlebihan atau terlalu sering hehe.

Sebelum tulisan ini makin ngawur, saya akhiri dengan ajakan untuk saling mendoakan, untuk semua pembaca, siapa pun itu, semoga Allah mudahkan urusannya, diberikan kesehatan wal 'afiat, dilancarkan rezekinya, ditetapkan imannya, diberikan limpahan keberkahan dalam hidupnya. Mohon maaf lahir dan batin, ya. 




 

 

Related Posts

Post a Comment

0 Comments