Hal yang Ingin Dilakukan saat Bulan Ramadan

Hal apa yang ingin kamu lakukan di bulan Ramadan, tapi belum kesampean? Suatu hal berupa kegiatan atau capaian tertentu yang belum terlaksana karena kondisi atau berbagai faktor lainnya. Khatam berkali-kalikah? Iktikafkah? Berbagi ke seratus orangkah? Atau mungkin sekadar ingin merasakan kembali nikmatnya Ramadan?

Bagi saya sendiri, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan meski belum terkabulkan. Di antara beberapa hal itu, saya ambil tiga teratas sebagai posisi paling diinginkan. Tiga hal yang berupa kegiatan ini memang belum bisa dilaksanakan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Ternyata, saya baru sadar bahwa satu kondisi terbesar sebagai penghalangnya itu adalah adanya jarak yang membentang.


Berpuasa Bersama Orang Tua (Lagi) 

Seingat saya, puasa terakhir saya di Pekanbaru alias rumah orang tua adalah saat saya masih SMA, mungkin sekira enam tahun yang lalu. Wah, lama juga ya. Momen itu pun jadi satu-satunya momen puasa bersama mereka di rumah, selama saya SMA karena saya mulai merantau selepas lulus SMP. Sebenarnya, kami juga pernah kumpul kembali di bulan Ramadan saat saya kuliah, tapi itu pun di rumah nenek dan feel-nya sungguh berbeda saat puasa di rumah. 

Momen saat saya puasa bersama kembali dengan mereka di rumah adalah salah satu momen paling berharga karena saya sudah beranjak besar, sudah mulai paham dan menikmati bulan Ramadan, terutama dengan orang-orang tercinta. Kegiatan-kegiatan harian pun menjadi begitu menyenangkan karena bisa bercengkerama sekaligus beribadah bersama orang tua. Biasanya, saat siang hari, kami mulai beres-beres dan masak di dapur, diselingi dengan menonton TV menjelang petang. Pada momen menjelang berbuka, ayahlah yang bertugas mencari aneka buah dan memotongnya untuk dihidangkan menjadi sop buah. Kalau saya sudah selesai bantu mama di dapur, saya juga ikut bergabung bersama ayah. Ada pula waktu saat kami jalan kaki ke depan jalan utama untuk sekadar mencari santapan berbuka. Kami hanya perlu sekira lima menit untuk menemukan aneka jajanan iftar. Bahkan, tersedia pula santapan gratis yang bisa diambil di halaman masjid.

Beberapa belas hari di bulan Ramadan, saya diajak ayah untuk ikut berbagi kepada anak-anak komplek tentang bacaan Alquran. Kegiatan ini pun dilaksanakan di masjid terdekat, yang tentu menambah pengalaman saya untuk berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda budaya, kebiasaan, dan bahasa. Di masjid ini pula, saya pernah ikut salat tahajud berjamaah di dini hari. Sekira pukul dua dini hari, saya dan ayah pergi ke masjid bersama. Kegiatan ini kami lakukan pada sepuluh malam terakhir. Hal yang saya suka, imam masjidnya memiliki bacaan yang indah sehingga membuat kami para jemaah makin nyaman dan betah. Menjelang waktu-waktu sahur, saya biasanya pulang dengan menenteng satu bungkus nasi padang yang saya dapatkan dari pembagian nasi selepas salat. Bayangkan, sahur dengan nasi padang ditambah lauk-pauk yang mama buat, adalah kombinasi yang luar biasa. Momen-momen lainnya pun terasa waraas dan rasanya ingin terulang kembali, apalagi saat ini sudah menambah anggota baru yakni suami. Semoga kami panjang umur dan bisa dengan mudah berkumpul kembali. Amin.


Iktikaf di Masjid Habiburrahman Bandung

Beberapa tahun lalu, saya mulai dapat informasi tentang kegiatan iktikaf di Masjid Habiburrahman. Apa yang membuatnya istimewa dan menarik? Masjid ini menerima jemaah yang akan melakukan iktikaf dari berbagai daerah. Tak heran jika jemaah yang hadir (hingga sebelum pandemi) berjumlah ratusan. Biasanya, jemaah yang hadir membawa keluarga atau kerabatnya. Salah seorang sepupu pun pernah iktikaf di sini dengan membawa kedua anaknya yang terbilang masih kecil. Apakah aman jika membawa anak? Berdasarkan testimoninya, iktikaf bersama anak tetap aman dan menyenangkan karena tiap keluarga membawa tenda masing-masing. Pengalaman iktikaf dengan membaur bersama yang lain dan nyaman bersama keluarga (apalagi bagi kami kaum perempuan yang serbaribet dalam beberapa hal) yang seperti ini yang ingin coba saya lakukan. 


Berpuasa di Tanah Suci

Diizinkan pergi ke Mekah saja sudah sebuah rezeki besar, apalagi diizinkan untuk juga beribadah puasa di sana. Berdasarkan cerita dari pengalaman salah seorang uwa, sungguh begitu nikmat dan menyenangkannya puasa di tanah suci. Tidak ada harapan yang lebih baik selain dapat sangat khusyuk beribadah, bermunajat di baitullah, dan anugerah-anugerah lain yang menghantarkan Allah rida. Ditambah pula, makin sering membaca kisah Nabi, makin rindu dan penasaran menginjakkan kaki di kota beliau. Semoga kita diundang oleh Allah untuk bisa pergi beribadah ke sana dalam keadaan baik dan terbaik. Amin. 



Related Posts