adsense

Mengapa Manusia Diciptakan? Refleksi Tujuan Penciptaan Manusia dalam Islamic Worldiew



Pertanyaan tentang siapa aku, mengapa aku ada, apa tujuan aku diciptakan, serta pertanyaan seputar makna hidup dan lainnya, tak pernah absen ditanyakan oleh manusia setiap zaman. Sebenarnya, pertanyaan ini merupakan pertanyaan naluriah yang pasti ada di setiap orang. Bahkan, pertanyaan tentang makna hidup merupakan pertanyaan yang radikal (makna radikal dalam KBBI: secara mendasar, sampai kepada hal yang prinsip). Pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan "sulit" yang jawabannya akan sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari kita. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Robert Solomon, "The hardest to answer, the most urgent, and the most obscure at the same time. Careful thinkers often avoid it, aware that the question is vague ..." Ketidakmampuan kita dalam menjawab pertanyaan mendasar ini akan menimbulkan krisis identitas, baik dalam lingkup individu, sosial, maupun kebudayaan.

Bagi yang sudah menonton drama "My Liberation Notes", pasti menemukan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bukan sekadar puitis, melainkan juga filosofis. Penulis naskah mengangkat banyak pertanyaan diri tentang kehidupan yang begitu kompleks dan relatable dengan semua kalangan manusia. Namun, bagi saya sendiri, masih banyak pertanyaan yang tidak dijawab dengan utuh dan tuntas hingga akhir episode. Jawaban-jawaban tersebut masih berada di seputar permukaan. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian saya adalah pertanyaan tentang eksistensi dirinya di dunia.



Bagi seorang Muslim, jawaban untuk pertanyaan "apa tujuan kita diciptakan dan hidup di dunia" tentu adalah untuk beribadah atau mengabdi kepada Allah. Namun, tak jarang, jawaban ini masih dijawab dengan lontaran pertanyaan lain dari kaum Muslim sendiri. Barangkali, kita mesti mengetahui hakikat dari manusia itu sendiri, untuk lebih memahami kehadiran diri kita di dunia yang tentu tak diciptakan dengan sia-sia ini. Topik ini juga terinspirasi dari diskusi tipis-tipis bareng suami dan tulisan beliau. Oleh karena itu, rujukan tulisan saya kali ini adalah tulisan suami sendiri (Pak Gilang Fikri), yang telah lebih banyak dan fasih dalam mendalami ilmu-ilmu filsafat (Islam). Tulisan beliau tersebut saya baca, pahami, dan ringkas ulang demi kebutuhan belajar saya.

Sebenarnya, pembicaraan terkait manusia dan hakikatnya sangat luas dan mendalam. Manusia sebagai subjek sekaligus objek yang dibicarakan, memang tak pernah ada habisnya untuk dipertanyakan. Oleh karena itu, di dalam buku Prolegomena, Prof. Al-Attas mengatakan bahwa konsep manusia adalah salah satu elemen dari pandangan hidup karena sifatnya yang fundamental. Jika ingin memiliki pandangan hidup yang benar dan lurus (baca: worldview Islam), memahami hakikat manusia dengan baik, sungguh diperlukan. 

Melihat hal itu, tulisan ini akan membahas salah satu hakikat dasar manusia yang dirasa oleh penulis penting untuk diketahui banyak orang, yaitu mengenai konsep penciptaan manusia. Dalam penciptaan manusia, pemahaman yang keliru atas hal ini melahirkan banyak permasalahan. Seperti halnya keyakinan bahwa manusia tidak diciptakan oleh Tuhan, manusia tercipta dengan sendirinya, manusia diciptakan oleh Tuhan namun kemudia Dia membiarkan manusia, dan lain-lain. Dalam hal ini, kita mungkin sering mendengar teori evolusinya Darwin.

Teori evolusi Darwin tentang manusia, bahwa manusia adalah hasil dari perubahan evolutif dari bentuk yang sederhana kepada bentuk yang kompleks namun digambarkan dari spesies kera/monyet. Manusia memang berevolusi dari bentuk yang sederhana kepada bentuk yang kompleks, dari mulai hari pertama di dalam kandungan, kemudian melahirkan, dan menjadi dewasa. Bedanya, Pertama, tentu tidak pernah ditemukan kera yang menjadi manusia, dan Kedua, Darwin tidak menyebut bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Berkeyakinan bahwa manusia tidak diciptakan oleh Tuhan sama dengan menolak tuhan sebagai pencipta. Hal ini jika diyakini oleh kaum muslimin maka ia telah kafir. Dengan demikian, bahaya teori evolusi manusia Darwin sangat fatal.

Teori Darwin tersebut di Barat, ternyata disambut baik oleh para filosof pos-mo. Mereka seakan mendapat angin segar dari teori Darwin tersebut. Karena manusia tidak diciptakan oleh Tuhan, maka eksistensi manusia atau siapa manusia itu sendiri dikarang oleh mereka. Permasalahan mendefinisikan siapa saya (sebagai manusia) di Barat muncul begitu banyaknya dan lamanya. Jika mereka mempercayai ajaran Nabi Muhammad, dan berpegang kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah, mereka akan segera mendapatkan jawaban yang tegas dari keduanya. Akibat dari ketidaktahuan identitas manusia yang hakiki, hidup manusia akan menjadi semaunya.

Contoh sederhana, seperti muncul istilah be your self (jadilah dirimu sendiri). Sebuah slogan yang asalnya muncul dari konsep “diri/self” Carl Rogers, Abraham Maslow, dan lain-lain yang mengusung eksistensialisme. Rogers mengatakan bahwa manusia berkembang dengan persepsi dirinya terhadap lingkungannya. Hal yang mirip dikatakan Maslow bahwa manusia berkembang adalah karena hasratnya (desire). Keduanya sama-sama tidak mengaitkan perkembanganan dan kemajuan manusia kepada pijakan yang tegas. Rogers mendasarkan perekembangan manusia terhadap lingkungannya, dan maslow kepada hasrat manusia. Bukankah tidak semua lingkungan melahirkan kebenaran, dan bahkan lingkungan itu sendiri perlu ditata dan diperbaiki. Apalagi hasrat manusia, yang padanannya dalam bahasa arab adalah al-hawa yang tidak semuanya baik pula. Ringkasnya, be your self itu perlu pijakan.

Akibat dari keyakinan tersebut, muncul permasalahan yang begitu banyaknya. Seperti kebebasan tanpa batas (freedom), sikap arogan/sombong, kapitalisme, sekularisme, sikap eksploitatif terhadap alam dan lain-lain. Hal itu hanya karena tidak adanya pengakuan (acknowledgment) penciptaan Tuhan terhadap manusia.

Sebaliknya, seseorang yang menyadari penciptaan Tuhan terhadap dirnya ia akan melaksanakan perjanjian dengan Tuhannya (Alastu birabbikum, qālū balā syahidnā). Ia diajari oleh Tuhannya tentang siklus kehidupan. Hal ini yang sangat ditekankan oleh prof. Al-Attas. Karena ketika manusia sudah lupa dan atau tidak tahu tentang hal ini manusia akan sangat sekuler. Manusia diajari siapa dirinya, dari mana ia berasal, ke mana ia diturunkan, dan ke mana ia akan berakhir dan kekal di sana. Bagi setiap muslim hal ini mungkin sudah tidak asing lagi. Namun, alangkah lebih baiknya jika pengetahuan itu menjadi landasan yang melahirkan sikap yang benar (right action). Seseorang yang menyadari mana ia berasal dan ke mana ia berakhir tidak akan hidup semena-mena. Ia akan selalu mengaitkan segala sesuatu dengan baik dan buruk, benar dan salah, sesuai dengan kehendak Allah.

Dari siklus tersebut, Al-Attas menggambarkan bahwa kehidupan seperti garis melingkar (lingkaran), bukan seperti garis lurus. Artinya, semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya (Inna lillāhi wainna ilaihi rāji’ūn). Sementara konsep garis lurus adalah siklus kehidupan yang diyakini oleh peradaban barat sekuler. Dalam siklus kehidupan yang digambarkan melingkar, semua perkembangan dan kemajuan akan dikaitkan kepada-Nya. Baik-buruk, maju-mundur, Bahagia tidak bahagia, semua kriteria dan juga sikap bersyukur manusia akan tertuju kepada-Nya. Ketika seseorang telah menyelsaikan pekerjaannya, ia akan berucap Alhamdulillah karena ia menyadari semuanya dari Allah. Ilmu pengetahuan yang semakin maju adalah ilmu pengetahuan yang di dalamnya penanaman ketuhan semakin kuat dibarengi dengan keberhasilan yang baik.

Sementara dalam siklus kehidupan barat sekuler yang digambarkan Prof. Al-Attas sebagai garis lurus akan menemui serba ketidak pastian. Mereka dengan kebutaannya terus mengembangkan ilmu pengetahuan mereka tanpa tahu dari mana berasal dan ke mana tujuan mereka. Ketika mereka telah mendapatkan kemajuan yang mereka cita-citakan mereka akan membangun lagi kemajuan dari awal.

Seperti cerita Sisyphus dalam mitologi Yunani yang menggelindingkan batu besar dari lembah gunung ke puncaknya. Setelah batu besar berhasil dibawanya ke puncak gunung, ia jatuhkan lagi kebawah, lalu ia ulang bawa lagi ke puncak gunung, lalu ia jatuhkan lagi, begitu seterusnya. Bagi mareka kemajuan tidak ada batasnya, tidak ada sikap syukur kepada Tuhan. Mereka tidak tahu akan ada apa setelah apa yang mereka perjuangkan tersebut. Mengapa tidak, setelah mendapatkan kemajuan dan perkembangan untuk bersyukur kepada Allah dan merawat kemajuan tersebut. Dengan kata lain, konsep kemajuan di barat melulu dunia, dan pencarian dunia tidak akan pernah habis. Sementara dalam kemajuan Islam, digambarkan bahwa dunia untuk dunia dan juga untuk akhirat (Q.S. Al-Qashash: 77)

Related Posts

Post a Comment

0 Comments